Langsung ke konten utama

Armada laut pamboang


  Pada perang makassar pula ikut raja Pamboang daeng tulolo oleh Belanda daeng tulolo ini disebut bajak laut "manguindano daeng tulolo" dan tidak baik pada Belanda ini dapat ditemukan dibuku berjudul tobarani pada saat itu daeng tulolo salah satu komando pasukan mandar dia pergi berperang baik didarat maupun dilaut sehingga Belanda pun menamainya bajak laut.

Sebuah sumber yg saya belum konfirmasi menyebutkan dalam serangan Bone Belanda kemandar putra daeng tulolo tertangkap dan daeng tulolo sendiri menyingkir kepegunungan tapi menurutku ada yang salah dengan cerita ini tidak mungkin daeng tulolo menyingkir kepegunungan dan membiarkan putranya berperang sendirian dan tertangkap Belanda padahal dia adalah jagoan perang dilautan antara Sulawesi dan Kalimantan lalu dia lari? Hal yang tidak masuk akal
Seingatku cerita itu cerita Belanda dan kabar Belanda tidak begitu bisa dipercaya mengapa daeng tulolo yang pahlawan disebut bajak laut oleh Belanda pastilah itu kebohongan hanya karena dia punya armada yg melawan Belanda bukan berarti bajak laut.

Yang mungkin adalah itu kesalahan penulisan karena daeng tulolo memang berada dimalunda daerah yang identik pegunungan tapi itu karena permusuhan antara dia dan daeng rioso , kisah daeng rioso dan daeng tulolo ini terdapat dalam buku Syaiful Sinrang seingatku dan didukung juga cerita rakyat i pura paraqbueq.

Dalam buku tobarani pula disebutkan ada peneliti yang mendapatkan informasi dipamboang bahwa dulu terdapat armada patroli laut Pamboang diselat Makassar berupa perahu padewakang ada yang 3 tiang dan 4 tiang.

Dari dulu dan sekarang pelaut Pamboang terkenal sebagai pelaut jarak jauh pasca perang Makassar Pamboang baru membeli sebuah meriam dari tumasik atau Singapura yang mereka beri nama lamber pottianak kira kira artinya kuntilanak panjang, meriam ini punya suara yang menggentarkan, tentang meriam saya baca dibuku mengenal mandar sekilas lintas jika saya tidak salah ingat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Busur dan panah sulawesi

sebelum abad 20 busur dan panah telah dikenal di Sulawesi Dari sebuah tulisan berjudul Benteng Art Deco Peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo Disebutkan ...Masuk lebih ke dalam, pengunjung akan menjumpai bangunan-bangunan  art deco  yang kental dengan nuansa negeri kincir angin Belanda – dengan bangunan berpintu tinggi menjuntai dilengkapi banyak jendela. Bangunan-bangunan tersebut kini difungsikan sebagai museum yang menyimpan berbagai peninggalan kuno dari Sulawesi Selatan. Salah satu bangunan tersebut kini dijadikan sebagai Museum I Lagaligo.  I Lagaligo  merupakan karya sastra terpanjang yang pernah ada di dunia. Karya ini bercerita tentang seorang Dewa utusan Tuhan yang diturunkan di tengah masyarakat Sulawesi. Karena dianggap suci, naskah  I Lagaligo  dijaga dan dipelihara dengan baik di museum ini. Di bagian yang lain, terdapat museum yang menyimpan berbagai senjata tradisional yang pernah digunakan oleh berbagai kerajaan yang ada...

Armada gowa

Dikutip dari my notes Oleh mahaji noesa Menurut Prof Dr Zainal Abidin Farid, pakar budaya Sulsel, selain jenis phinisi, Kerajaan Gowa memiliki ribuan perahu jenis Galle yang mempunyai desain cantik menawan, dikagumi pelaut-pelaut Eropa. Konstruksi perahu galle bertingkat. Panjangnya ada yang mencapai 40 meter dengan lebar sampai 6 meter. Dalam Lontara Bilang Gowa- Tallo kepunyaan Andi Makkaraka Ranreng Bettempola (alm), perahu galle disebut sebagai perahu tumpangan raja dan pembesar-pembesar kerajaan. Selain memiliki tiang layar yang besar , setiap galle dilengkapi pendayung 200 sampai 400 orang. Galle-galle tersebut masing-masing diberi nama secara khusus. Seperti I Galle Dondona Ralle Campaga, panjang 25 depa (kl.35 m). I Galle Inyannyik Sangguk dan I Galle Mangking Naiya, masing-masing memiliki panjang 15 depa (kl.27 m). I Galle Kalabiu, I Galle Galelangan, I Galle Barang Mamase, I Galle Siga, dan I Galle Uwanngang, masing-masing memiliki panjang 13 depa (23 m). Bet...

Mandar tak pernah menyerah pada belanda

Federasi mandar pada tahun 1906 Setelah arupalaka dan Cornelis speelman mengalahkan Gowa dan sekutunya dibenteng somba Opu tahun 1669 Arupalaka menerima ide Belanda untuk menyerang mandar tahun itu juga akan tetapi serangan pertama itu gagal total Belanda menyebut penyerangan itu kurang sukses tapi dilapangan itu gagal total kabur dari pasukan mandar Balanipa dan banggae. Arupalaka kemudian menyerang Wajo tahun berikutnya setelah sukses kali ini mereka menyerang mandar tahun 1671 saat ini arupalaka membawa pasukan makassar bersama pasukan Bugis namun tidak berhasil tapi kali ini mereka tidak kabur dalam kegagalan mereka kembali lagi tahun 1673 berbagai bangsawan Sulawesi Selatan bersumpah memerangi mandar tapi gagal.