Langsung ke konten utama

Tellumpoccoe

Kronologi Terbentuknya Koalisi TellumpoccoE berdasar Kroniek Van Wadjo dan istilah lazimnya (Bosowa)

Bagian 1 - 3

TellumpoccoE, adalah konfederasi kerajaan Bugis dimasa lalu yang melibatkan Bone, Wajo dan Soppeng. Terbentuknya konfederasi ini tidak terlepas dari dinamika politik yang terjadi. Bone sebagai kerajaan terkuat dan terluas, diangkat sebagai saudara tua. Menyusul Wajo sebagai saudara tengah dan Soppeng sebagai saudara bungsu. Konfederasi TellumpoccoE menyebut ketiga kerajaan itu bersaudara.

Di masa lalu, hubungan antara kerajaan satu dengan yang lain diibaratkan sebagai berikut :
1. Ibu dan Anak. Jika sebuah kerajaan bergabung pada kerajaan yang lebih besar dan membutuhkan petunjuk dalam pengelolaan negara dari kerajaan induk, maka statusnya adalah anak. Sedang kerajaan Induk statusnya sebagai Ibu. Biasanya kerajaan "anak" adalah kerajaan taklukan yang diperlakukan khusus dan mendapat perlindungan dari kerajaan Induk.

2. Ata. Jika sebuah kerajaan ditaklukkan oleh kerajaan besar. Posisinya sebagai "ata" dalam artian bahwa kerajaan taklukan ini harus mengikuti kebijakan dari pemerintah kerajaan pusat. Baik itu perintah untuk ikut perang, upeti dan sebagainya. Biasanya disebut kerajaan Palili.

3. Saudara. Jika sebuah atau beberapa kerajaan, menggabungkan dirinya secara sukarela. Bisa berbentuk federasi atau konfederasi.

TellumpoccoE adalah sebuah konfederasi, dimana ketiga kerajaan ini berstatus sama dan berdaulat. Ketiganya saling menghormati hukum yang berlaku diwilayah masing masing. Namun tetap memberi ruang untuk saling memberi masukan. Yang paling penting adalah adanya kewajiban dari ketiganya untuk saling membantu pertahanan dari serangan luar.

Masa kejayaan Wajo di pemerintahan Arung Matoa IV La Tadampare puang rimaggalatung. Di utara, wilayah Wajo hingga ke Larompong, Massenrempulu. Sementara di selatan, wilayah Wajo hingga Mampu, Soppeng dan Lamuru. Larompong diberikan oleh Datu Luwu Dewaraja atas partisipasi Wajo semasa perang Luwu - Sidenreng. Sementara Mampu, Soppeng dan Lamuru menggabung dengan sukarela.

Dinamika Politik 1525-1534
Di masa Arung Matoa Wajo yang kedua, La Obbi Settiriware, Wajo mulai berkembang dan bersentuhan dengan kerajaan tua dan besar yaitu Luwu. Melalui perjanjian Topaceddo I, Wajo menjadi "anak" Luwu. Sebagai kerajaan yang tergolong baru dan dikelilingi oleh kerajaan palili Luwu, pilihan Wajo untuk menjadi "anak" Luwu sangat realistis. Hal ini menyiratkan adanya perlindungan Luwu sebagai kerajaan induk kepada kerajaan Wajo sebagai anak

Setahun setelah menjabat Arung Matoa (sekitar tahun 1525), La Tenripakado To Nampe menerima utusan dari Luwu. Utusan tersebut meminta agar Wajo "Mabbarata", sebagai tanda persahabatan dan posisi Wajo sebagai anak. Mabbarata yaitu pernyataan dan sikap berduka atas meninggalnya Datu Luwu Dewaraja. Namun To Maddualeng, Arung Betteng menolak dengan alasan bahwa perjanjian Allamungpatue ri Topaceddo bukan membahas tentang "Mabbarata".Perang antar Tallo dan Gowa, disebut terjadi dimasa tahun kedua Daeng Leba menjabat sebagai Makkedang Tanae ri Luwu. Sebelumnya disebut bahwa Daeng Leba menjabat sebagai Makkedang Tana mengikuti Datu Luwu Sanggaria menggantikan kakandanya yang meninggal (Dewaraja)

Ditahun kedua masa jabatan Arung Matoa La Tenripakado To Nampe (sekitar tahun 1526), Karaeng Tunipallangga menyerang Cenrana bersama orang Bone. Setelah sebulan berperang, Cenrana akhirnya kalah dan Datu Luwu menyerah. Saat itu Cenrana masih wilayah/palili dari kerajaan Luwu. Wajo sebagai sekutu Luwu berposisi netral. Lima bulan kemudian, Orang Makassar bersama Bone menyerang Soppeng. Untuk kedua kalinya Wajo berposisi netral. Setelah tiga bulan berperang, Soppeng akhirnya menyerah. Wilayah terluar Wajo saat itu adalah Wage, Pammana dan Timurung.

Setahun setelah ditaklukkannya Cenrana oleh Makassar dan Bone (sekitar 1527), datang utusan Luwu mempertanyakan sikap Wajo yang netral saat Cenrana diserang. To Maddualeng beralasan bahwa tidak ada pemberitahuan atau permintaan pasukan dari Luwu sehingga Wajo diam.

Pada tahun yang sama, Datu Luwu Sanggaria menyerang Wajo sebagai hukuman atas sikap netral Wajo waktu perang Cenrana. Wajo menyerah dan To Maddualeng menemui Datu Luwu di Siwa.  Perjanjian Topaceddo kembali dipertegas bahwa posisi Luwu sebagai "ibu" dan Wajo sebagai "anak". Namun Datu Luwu Sanggaria mengambil kembali Larompong dari Wajo dengan alasan bahwa Cenrana tak bersama Wajo lagi.

Setahun kemudian (sekitar 1528), Datu Luwu Sanggaria diturunkan dari tahtanya dan pergi ke Wajo untuk bermukim. Selama tiga tahun di Wajo, Sanggaria kembali ke Luwu. Sementara itu dua tahun pasca perang Cenrana, Arumpone La Uliyo Bote'e meninggal dan digantikan putranya, La Tenrirawe Bongkangnge. Sebulan setelah menjadi Arumpone, Mampu dikepung dan diserang. Setelah dua tahun pengepungan Bone pada Mampu, akhirnya Mampu menyerah dan menjadi palili Bone (sekitar 1529).

Lima tahun setelah kalahnya Cenrana (sekitar 1532), Makassar dan Bone menyerang Luwu. Setelah setahun berperang (1533) akhirnya Datu Luwu Sanggaria menyerah. Wajo untuk sekian kalinya memilih untuk netral. Setelah perang, Karaeng Tunipallangga singgah di Cenrana. Ia mengirim utusan pada Wajo untuk mempertanyakan sikap politiknya yang sebelumnya berafiliasi ke Luwu yang telah dikalahkan Makassar. Namun To Maddualeng menjawab bahwa Wajo tetap netral dan tak mempertuan siapapun. Tak mengomentari kemenangan siapapun dan kekalahan siapapun.

Dua bulan setelah jatuhnya Ware, datang utusan dari Luwu ke Wajo mempertanyakan sikap Wajo yang tak membantu Luwu. To Maddualeng menjawab dengan perandaian bahwa ayam yang bertengger akan menjadi dahan yang kuat. Dahan yang patah akan ditinggalkan ayam tersebut dan mencari dahan yang lebih kuat.

Setahun setelah kalahnya Luwu (1534), datanglah Karaeng Tunipallangga bersama pasukannya di Cenrana. Kedatangan Karaeng Tunipallangga bersama pasukannya atas permintaan Luwu agar menyerang Wajo. Bersama, Bone, Luwu dan Soppeng, Makassar bersiap menyerang. Wajo sejauh itu belum menentukan sikap politiknya. Dari Cenrana Makassar dan Luwu bergerak menuju Topaceddo. Setelah tiga malam, diam-diam Bone mengirim utusan ke Wajo. Bone hendak mempertanyakan mengapa Wajo diam, padahal sudah tiga malam Karaeng Tunipallangga menunggu utusan Wajo.

To Maddualeng menjawab utusan Bone, bahwa Wajo bersiap melawan Luwu dan Makassar, nanti pemenang perang yang menentukan posisi Wajo. Utusan Bone kembali menghadap Arumpone dan menyampaikan pesan To Maddualeng. Utusan Bone kembali menghadap To Maddualeng menyampaikan pesan Arumpone. Arumpone menyarankan agar Wajo menghindari perang melawan koalisi Luwu dan Makassar. Arumpone juga menyarankan agar Wajo mempersembahkan kerbau belang kepada Luwu. Saran Arumpone diterima oleh To Maddualeng

Esoknya, To Maddualeng datang menghadap Datu Luwu membawa kerbau belang dan tiga gelang. To Maddualeng menyerahkan kerbau belang dan tiga gelang kepada Datu Luwu dan meminta agar tidak menyerang Wajo dan pulang ke Luwu. Namun Datu Luwu marah. Sebab kerbau belang adalah pantangan bagi rakyat Luwu terlebih rajanya dan menganggap persembahan tersebut adalah penghinaan. Datu Luwu menolak keras persembahan orang Wajo. To Maddualeng kembali.

Menjelang malam, datang utusan Bone menghadap To Maddualeng. Utusan Bone menjelaskan tentang posisi pasukan. Bahwa pasukan Makassar dan Luwu menyatukan dirinya menjadi satu grup pasukan yang menyerang dari Barat. Sementara pasukan Bone, akan menyerang Wajo dari timur bersama pasukan Bugis lainnya yaitu Soppeng.Utusan Bone juga menyampaikan pesan Arumpone bahwa hendaknya Wajo hanya menyiapkan satu pasukan untuk menghadapi pasukan Bone dari timur. Agar terkesan bahwa pasukan Bugis yang dipimpin Bone memang akan menyerang Wajo. Dan Wajo hendaknya mengkonsentrasikan pasukannya menyambut pasukan koalisi Luwu dan Makassar. Bila Wajo mampu mengalahkan pasukan koalisi hendaknya pasukan Wajo terus mengejar pasukan koalisi hingga Payung Arumpone melintas. To Maddualeng menyampaikan pada utusan Bone bahwa Wajo akan melaksanakan saran strategi perang Arumpone.

Dini hari, pasukan Bone menduduki Cinnotabi dan membakar. Api yang menyala terlihat oleh pasukan Luwu dan Makassar. Melihat kondisi yang nampak tidak menguntungkan Wajo, pasukan koalisi Luwu dan Makassar buru buru menyiapkan pasukan. Pasukan koalisi tidak menyadari jebakan yang dipersiapkan Wajo atas usul Bone tersebut. Pasukan Bone pura pura mundur, sehingga punya alasan seolah olah kalah dari Wajo. Pasukan Wajo yang terkonsentrasi dan sudah siap menyerang balik pasukan koalisi Luwu dan Makassar yang belum siap tersebut.

Pasukan koalisi Luwu dan Makassar akhirnya terdesak dan dipukul mundur oleh pasukan Wajo. Sesuai saran Arumpone, saat itulah Payung Arumpone melintas dan pasukan Wajo menghentikan pengejarannya. Hampir saja Datu Luwu dan Karaeng Gowa ditebas andai payung Bone di timur tidak segera melintas ke front barat. Lebih seribu korban dari pihak Luwu demikian pula dari pihak Makassar atas serangan yang gagal tersebut.

Pertempuran berakhir saat senja. Lalu datanglah utusan Arumpone menghadap ke To Maddualeng. Arumpone mengusulkan agar Wajo menahan diri atas kemenangan strategis tersebut. Wajo juga disarankan agar menghormati Luwu dan Makassar dengan cara menyerahkan persembahan pada Datu Luwu dan Karaeng Gowa. Dengan menyerah, maka serangan lanjutan dari Luwu dan Gowa bisa dihindari. Bila Luwu dan Makassar menolak persembahan Wajo, atau memperpanjang pertempuran, maka Bone akan berbalik menyerang Luwu dan Makassar. To Maddualeng menerima usul Arumpone.

Esok harinya, To Maddualeng membawa persembahan. Duduk bertiga Karaeng Gowa, Datu Luwu dan Arumpone. To Maddualeng menyampaikan pernyataan menyerah (meski memenangkan pertempuran) pada Karaeng Gowa. To Maddualeng juga mengatakan hendaknya Karaeng Gowa tidak perlu menyusahkan diri hanya karena ingin melihat orang Wajo. Sebaiknya Karaeng Gowa pulang. Karaeng Tunipallangga Somba Gowa bertanya pada Arumpone La Tenrirawe Bongkangnge tentang sikap Wajo tersebut. Arumpone mengusulkan agar Makassar menerima pernyataan menyerah Wajo. Karaeng Tunipallangga pun setuju. Maka kembalilah orang Wajo kenegerinya demikian pula Bone, sedang Datu Luwu dan Karaeng Tunipallangga ke Cenrana. Tiga malam kemudian, datanglah utusan Arumpone ke Wajo, Ia menyampaikan bahwa Makassar telah mengetahui bahwa Bone dan Wajo tidak saling memusuhi (Tessipettuang perru). To Sanrangeng dari Baringeng yang membocorkan pada Karaeng Gowa bahwa ada utusan dan komunikasi rahasia antara Bone dan Wajo. Bone mengusulkan agar bersama Wajo menyerang pasukan Makassar saat masih di Cenrana. Namun usul Bone ditolak To Maddualeng dengan alasan bahwa kita belum bersama Dewata SeuwaE. Nantilah jika telah bersama Dewata SeuwaE maka kita menyerang Makassar.

Tiga bulan kemudian, Bone menyerang Baringeng, hingga Cinnong dan Jampu. Sementara itu, Datu Luwu yang sebelumnya mengambil kembali Larompong, mengambil juga Siwa. Batas utara Wajo saat itu hingga Keera dan Utting. Adapun Cenrana, kembali menjadi wilayah Luwu.

Sumber: Andi Rahmat Munawar
 http://www.diskusi-lepas.id/2015/01/kronologi-terbentuknya-koalisi.html?m=1

Kronologi Terbentuknya Koalisi TellumpoccoE Berdasar Kroniek Van Wadjo (Bagian 2).

Di bagian pertama telah disebutkan bahwa wilayah Wajo bagian utara sekitar tahun 1534 adalah hingga di Keera dan Utting. Hal ini dikarenakan Datu Luwu mengambil wilayah Siwa dan memasukkan dalam wilayahnya. Sementara Bone merebut Baringeng sebagai bentuk balasan atas dilaporkannya utusan rahasia Bone ke Wajo pada Karaeng Tunipallangga.
Sementara Datu Luwu Sanggaria bersama Karaeng Tunipallangga setelah menyerang Wajo, keduanya ke Cenrana dan kembali ke negeri masing masing.
- Karaeng Tunipallangga. Nama beliau adalah I Manriwagau Karaeng Tunipallangga Raja Gowa
- To Maddualeng. Nama beliau adalah La Paturusi To Maddualeng. Putra La Tiringeng to Taba. Menjabat sebagai Arung Bettempola
- Keera. Adalah sebuah kerajaan kecil disebelah utara Wajo dan sebelah selatan Siwa. Berbatasan langsung dengan Sidenreng/Maiwa di barat dan teluk Bone di Timur
- Akkotengeng. Adalah kerajaan kecil di sebelah utara Wajo. Berbatasan langsung dengan Keera.
- Pammana. Adalah kerajaan kecil disebelah selatan Wajo. Berbatasan langsung dengan Bone dan Soppeng
- Timurung. Adalah kerajaan kecil disebelah selatan Wajo. Berbatasan langsung dengan Pammana dan Soppeng.
- Utting. Kerajaan kecil disebelah utara Sidenreng
- Wajo riaja. Wajo barat. Terdiri dari tiga kerajaan kecil yang diketuai oleh Palippu. Menggabungkan diri ke Wajo dan menyebut dirinya Wajo riaja.
- Aru'. Secara harfiah berarti amuk. Namun pada konteks ini adalah ikrar setia pada pimpinan yang dilakukan sebelum perang. Aru' sering juga disebut osong.

DINAMIKA POLITIK 1535-1550
Setelah menjabat selama kurang lebih 11 tahun sebagai Arung Matoa, La Tenripakado To Nampe wafat. Beliau digantikan oleh La Temmasonge. Hanya 3 tahun menjabat, La Temmasonge mengundurkan diri sebagai Arung Matoa. Selanjutnya digantikan oleh La Warani To Temmagiang (sekitar 1538).

Di tahun pertama (sekitar 1539) terjadi konflik antara Utting dan Sidenreng. Perang berkepanjangan hingga setahun (sekitar 1540), namun keduanya berimbang. Sidenreng kemudian meminta Karaeng Tunipallangga terlibat dan membela Sidenreng. Utting meminta bantuan pada Wajo. Setelah 10 hari berperang, pasukan gabungan Wajo dan Utting terdesak. Bahkan pasukan Wajo dipukul mundur hingga ke Sekkanasu. Untuk menghindari kekalahan yang lebih parah, maka To Maddualeng menyatakan kekalahan Wajo terhadap Gowa.

Sebagai pemenang perang, posisi Gowa sebagai "puang". Sementara sebagai pihak kalah perang, Wajo sebagai "ata". Wajo diwajibkan mematuhi perintah Gowa. To Maddualeng menjawab, sepanjang kemampuan dan kebaikan Wajo, maka Wajo bersedia. Karaeng Tunipallangga mengatakan, apakah ada "tuan" yang ingin mencelakakan hambanya.
Tiga hari kemudian, Pammana dan Timurung datang menghadap Karaeng Tunipallangga dan menggabungkan wilayahnya. Sebulan kemudian, menyusul Keera dan Akkotengeng menggabungkan wilayahnya ke Gowa.

Dua tahun kemudian (sekitar 1542) datanglah Karaeng Tunipallangga menyuruh orang Wajo untuk menebang kayu di Sumangki untuk dijadikan tiang. Selama 5 bulan, orang Wajo di Sumangki kemudian pulang. Setahun kemudian (1543) terjadi konflik internal antara orang Wajo dan Wajo riaja. Maka Arung Matoa mengirimkan persembahan pada Arung Palippu (penguasa Wajo riaja) agar mengingat perjanjian damai mereka dengan Wajo. Namun, ditampik. Perang saudara terus berlangsung hingga tiga tahun kemudian (1546).

Setahun perang saudara berlangsung (1544) Arung Matoa La Warani To Temmagiang wafat. Menurut Lontara Sukkuna Wajo, beliau digantikan oleh La Malagenni. Namun menurut Kroniek Van Wadjo, langsung digantikan oleh La Mappapuli to Appamadeng MassaolocciE dalam situasi perang.
Saat menjadi Arung Matoa (sekitar tahun 1544), MassaolocciE kembali mengingatkan Arung Palippu tentang perjanjian Wajo dan Wajo riaja. Namun tetap ditolak.
Wajo terbelah. Orang Wajo dilarang ke danau (sebelah barat) oleh orang Wajo riaja. Namun perang saudara itu berakhir dengan kekalahan Wajo riaja. Statusnya diturunkan. Saat itulah La Mungkace To Uddamang (kelak menjadi Arung Matoa) memperlihatkan kemampuannya.Tiga tahun menjabat Arung Matoa (sekitar 1550), datanglah utusan Gowa meminta agar Wajo memerangi Batulappa pada awal kemunculan bulan. Setelah tiga hari utusan Gowa menginap, pulanglah ke Gowa. Sementara Wajo bersama palilinya bersiap menyerang ke Batulappa.

Setelah berperang selama satu bulan, akhirnya Batulappa menyerah. Lalu orang Wajo kembali. Tak lama datanglah utusan Gowa mengatakan bahwa bila Wajo tak mampu mengalahkan Batulappa, hendaknya menyerang Bulo bulo. Namun Arung Matoa menjawab, bahwa Batulappa telah dikalahkan. To Maddualeng menyarankan Arung Matoa, meski telah memenuhi permintaan Karaeng Tunipallangga agar menaklukkan Batulappa, hendaknya tetap ke Bulo bulo. Arung Matoa mengiyakan namun meminta waktu 7 hari agar pasukan beristirahat. Kemudian mempersilakan utusan Gowa agar lebih dulu ke Bulo bulo.

Setelah sepekan, orang Wajo berangkat ke Bulo bulo. Selama tiga hari perjalanan akhirnya sampai. Didapatilah Arumpone dan Karaeng Gowa duduk. Lalu bertanya Karaeng Gowa, tentang permintaannya pada Wajo agar mengalahkan Batulappa. Orang Wajo mengiyakan. Karaeng Gowa meminta lagi agar Wajo memerangi Bulo Bulo. Bila Wajo menang, derajat Wajo dari palili Gowa akan dinaikkan menjadi "sanak" Gowa. Karaeng Gowa menyuruh bawahannya agar menyerahkan gelang pada orang Wajo. Namun hanya La Mungkace dan BangkaibottoE yang mengambil. Lalu keduanya pun melakukan aru.

Setelah makan malam, La Mungkace dan Bangkaibottoe bersama masing masing 20 orang orangnya masuk ke Bulo bulo. Perang malam berlangsung hingga pagi hari. Bulo bulo akhirnya menyerah. Atas keberhasilan tersebut, Karaeng Gowa mengembalikan Baringeng dan MallusesaloE pada Wajo serta menjadikan Wajo sebagai sanak. Tiga hari kemudian, mereka semua kembali ke negeri masing masing.

Sumber: http://www.diskusi-lepas.id/2015/02/kronologi-terbentuknya-koalisi.html?m=1

Kronologi Terbentuknya Koalisi TellumpoccoE berdasar Kroniek Van Wadjo atau lebih lazimnya Bosowa "Bone, Soppeng, Wajo".(Bagian 3).

Pada bagian sebelumnya (kedua), atas permintaan Gowa, Wajo menyerang Batulappa dan Bulo Bulo. Gowa kemudian mengeratkan perjanjian Topaceddo II dengan menaikkan status Wajo sebagai sanak. Gowa juga mengembalikan bekas wilayah Wajo yang direbut Gowa yaitu Baringeng dan Mallusesalo.

Kronologi Terbentuknya Koalisi TellumpoccoE berdasar Kroniek Van Wadjo (bagian 1)
dan
Kronologi Terbentuknya Koalisi TellumpoccoE berdasar Kroniek Van Wadjo (bagian 2)

Dinamika Politik 1551 hingga terbentuknya TellumpoccoE

Setahun setelah perang Batulappa dan Bulo Bulo (1551), terjadi perselisihan antara Wajo dan Pammana. Tiga bulan berselisih akhirnya meletus perang yang dimenangkan Wajo. Tiga tahun kemudian (sekitar 1554) Timurung dilepas oleh Bone. Wajo menyerang Timurung. Tua dan Bettempola dipukul mundur, bahkan Pilla To Sangkawana hampir gugur apabila Arung Gilireng tidak mengorbankan dirinya. Sejak itu Gilireng mendapat posisi terhormat di Wajo. Sementara itu, Patola yang menyerang Timurung dari arah timur berhasil menembus pertahanan Timurung.

Terjadi perselisihan antara Wajo dan Lamuru tentang Citta tiga tahun setelah perang Timurung (sekitar 1557). Selama tiga bulan saling berkirim utusan namun tak tercapai kata sepakat. Akhirnya perang meletus. Wajo menyerang Lamuru, namun dipukul mundur berkat bantuan Gowa pada Lamuru. Arumpone mengambil inisiatif dengan mengirim utusan yang membawa pesan agar Gowa tidak mencampuri perang Wajo dan Lamuru. Tiga hari kemudian, Gowa mengirim pesan ke Arumpone agar membiarkan keterlibatan Gowa terhadap perang Wajo dan Lamuru. Akhirnya perang berakhir dengan kekalahan di pihak Wajo.Tiga tahun setelah perang Wajo dan Lamuru (sekitar 1560), Gowa bersama sekutunya (Luwu, Soppeng dan Sidenreng) bersiap menyerang Bone. Wajo sebagai pihak kalah perang dengan Gowa pada perang sebelumnya berkewajiban membantu Gowa. Namun secara diam diam Arung Matowa mengirimkan utusannya ke Arumpone tentang rencana penyerangan.

Dijelaskan pada Arumpone bahwa Gowa bersama Luwu dan Soppeng akan menyerang ibukota Watampone, sedang Wajo dan Sidenreng ditugaskan menyerang Palakka. Pasukan Wajo mengenakan pakaian hitam dan tidak menyerang Palakka. Sehingga memberi kesempatan pada pasukan Bone untuk berkonsentrasi menghadapi pasukan Gowa, Luwu dan Soppeng. Tanpa pertempuran berarti, Wajo bersama Sidenreng buru buru mengundurkan diri dari pertempuran agar memberi kesempatan pada pasukan Bone. Sementara pasukan Bone yang terkonsentrasi memukul mundur pasukan gabungan Gowa, Luwu dan Soppeng hingga ke Sailong. Pasukan Gabungan berhenti mundur sebab melihat bendera pasukan Wajo disekitar Sailong. Muncul kecurigaan Karaeng Gowa terhadap sikap setengah hati Wajo menyerang Bone.

Gowa merapat di Cenrana tiga tahun kemudian (sekitar 1563) untuk menyerang Bone. Gowa melibatkan sekutunya termasuk Wajo dalam penyerangan ini. Setelah berperang selama tiga bulan, Bone mulai kewalahan. Palakka menjadi lawan. Karaeng Gowa membangun benteng pertahanan di Pappolo. Saat itulah Karaeng Tunipallangga sakit, dan tiga hari setelah tiba di Gowa beliau meninggal. Beliau digantikan oleh Karaeng ri CempaE sebagai Karaeng Gowa dan melanjutkan peperangan.Dimalam hari, Wajo mengirim utusannya ke Bone dan diterima oleh Kajao Laliddong. Utusan Wajo menjelaskan bahwa hendaknya Bone tidak menyiapkan pasukan menghadapi Wajo sehingga pasukan Bone bisa berkonsentrasi menghadapi Gowa. Utusan Wajo berjanji, pasukan Wajo akan segera mundur tanpa bertemu pasukan Bone.

Keesokan harinya, pasukan Gowa dan sekutu merebut sebagian Bukaka. Saat itulah pasukan Wajo mundur sesuai komunikasi rahasia Arung Matoa dengan Kajao Laliddong. Di saat itulah pasukan Gowa dipukul mundur oleh pasukan Bone. Bahkan Karaeng Gowa ditebas. Perang akhirnya berakhir dengan Perjanjian damai antara Bone dan Gowa dengan menyandingkan Sudangnge dan La Teariduni. Lima malam setelah perdamaian, Daeng Patobo diangkat menjadi Karaeng Gowa. Selama menjabat Karaeng Gowa, tidak ada perang besar.

Tak lama ada utusan Gowa ke Wajo meminta agar orang Wajo ke Barru menurunkan tiang ke laut (untuk diangkut ke Gowa). Arung Matoa menjawab, bahwa bahkan jika tiang itu di Tamalate ia bersedia apalagi bila di Barru. Setelah utusan Gowa pulang, Wajo mengirim utusan ke Arumpone menjelaskan bahwa Wajo dipanggil ke Barru. Arumpone menjawab ke utusan Wajo bahwa ada baiknya bila Bone menemani Wajo ke Barru, dan lebih baik lagi bila kita mengajak kerabat kita di Soppeng. Maka Bone dan Soppeng pun menemani Wajo ke Barru. Setibanya di Barru, Karaeng Gowa Daeng Patobo bertanya pada Arumpone, mengapa Bone dan Soppeng ikut sedangkan hanya Wajo yang dipanggil. Arumpone menjawab, bahwa Wajo takut melewati perjalanan sehingga Bone dan Soppeng menemani dan membawa peralatan perang.

Setelah itu, pergilah orang Wajo, orang Bone dan orang Soppeng mengikat tiang. Bergantian Arung Matowa La Mungkace To Uddamang dan PollipuE. Setelah selesai mereka kembali dan bertemu di Amali. Arumpone bersama PollipuE dan Arung Matowa. Arumpone mengusulkan agar tujuh malam kedepan, mereka bertiga menyerang Cenrana, sebab masih wilayah Karaeng. Ketiganya setuju, dan kembali ke negeri masing masing mempersiapkan pasukan.Di hari yang ditentukan, pasukan koalisi pertama Bone, Wajo dan Soppeng menyerang Cenrana. Inilah perang pertama sepanjang sejarah bahkan sebelum koalisi TellumpoccoE terbentuk. Perang perang sebelumnya, tidak berada pada sisi yang bersamaan meski telah terbangun kesepahaman.

Setelah bertempur selama sehari, Cenrana direbut pasukan gabungan. Hampir saja Datu Sanggaria gugur oleh pasukan Bone, bila Arung Matowa tidak segera mengingatkan Arumpone. Bahwa bila Datu Sanggaria gugur dalam pertempuran, maka akan terwariskan dendam ke anak cucu. Maka Datu Sanggaria pun dilepas oleh pasukan Bone. Seusai bertempur, duduk bertiga Arumpone, PollipuE dan Arung Matowa. Arumpone mengusulkan agar lima malam kedepan ketiganya bertemu di Timurung untuk mempersaudarakan ketiga negeri. PollipuE dan Arung Matowa pun setuju.

Di hari yang ditentukan, ketiganya bertemu di Timurung. Arumpone membuka pembicaraan. "Ada baiknya kita persaudarakan negeri kita, laksana saudara kandung seayah seibu", kata Arumpone. Arung Matowa menjawab, : "Bagaimana mungkin kita persaudarakan negeri kita, sedang Wajo menjadi abdi/bawahan Gowa (pasca perang dengan Lamuru) sedang Bone dan Gowa bersanak ?". Arumpone menjawab, : "Biarlah Bone melawan Gowa bila Gowa masih ingin memperabdi Wajo, bahkan kalau perlu kita bertiga melawan Gowa".

PollipuE angkat bicara, : "Baik pernyataan kalian berdua. Namun yang saya minta menjadikan Soppeng sebagai anak dari Wajo dan Bone, sebab hanya yang sederajat yang bersaudara". Arumpone kemudian meminta pendapat Arung Matowa tentang usulan Soppeng. Arung Matowa menjawab, : "Bila Soppeng menjadi 'anak' maka akan merusak kita semua (harusnya bertiga sederajat)". Arumpone mengiyakan Arung Matowa. Maka Arumpone menyerahkan Goagoa bersama vassalnya pada Soppeng. Arung Matowa angkat bicara dan menyerahkan Baringeng dengan vassalnya. Soppeng pun mengangguk tanda setuju.

Arumpone berkata, : "Ketiga negeri kita adalah bersaudara kandung, seayah seibu. Bone saudara tua, Wajo saudara tengah, dan Soppeng saudara bungsu dan ketiganya disebut TELLUMPOCCOE. Bersepakatlah ketiganya antara dan mengambil telur, Arumpone MatinroE ri Gucinna, Arung Matowa MatinroE ri Kananna dan PollipuE MatinroE ri Tanana. Dilanjutkan dengan pengucapan ikrar TELLUMPOCCOE dan penanaman batu secara simbolik.

Sumber: http://www.diskusi-lepas.id/2015/02/kronologi-terbentuknya-koalisi_27.html?m=1

Andi Rahmat Munawar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Busur dan panah sulawesi

sebelum abad 20 busur dan panah telah dikenal di Sulawesi Dari sebuah tulisan berjudul Benteng Art Deco Peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo Disebutkan ...Masuk lebih ke dalam, pengunjung akan menjumpai bangunan-bangunan  art deco  yang kental dengan nuansa negeri kincir angin Belanda – dengan bangunan berpintu tinggi menjuntai dilengkapi banyak jendela. Bangunan-bangunan tersebut kini difungsikan sebagai museum yang menyimpan berbagai peninggalan kuno dari Sulawesi Selatan. Salah satu bangunan tersebut kini dijadikan sebagai Museum I Lagaligo.  I Lagaligo  merupakan karya sastra terpanjang yang pernah ada di dunia. Karya ini bercerita tentang seorang Dewa utusan Tuhan yang diturunkan di tengah masyarakat Sulawesi. Karena dianggap suci, naskah  I Lagaligo  dijaga dan dipelihara dengan baik di museum ini. Di bagian yang lain, terdapat museum yang menyimpan berbagai senjata tradisional yang pernah digunakan oleh berbagai kerajaan yang ada...

Armada gowa

Dikutip dari my notes Oleh mahaji noesa Menurut Prof Dr Zainal Abidin Farid, pakar budaya Sulsel, selain jenis phinisi, Kerajaan Gowa memiliki ribuan perahu jenis Galle yang mempunyai desain cantik menawan, dikagumi pelaut-pelaut Eropa. Konstruksi perahu galle bertingkat. Panjangnya ada yang mencapai 40 meter dengan lebar sampai 6 meter. Dalam Lontara Bilang Gowa- Tallo kepunyaan Andi Makkaraka Ranreng Bettempola (alm), perahu galle disebut sebagai perahu tumpangan raja dan pembesar-pembesar kerajaan. Selain memiliki tiang layar yang besar , setiap galle dilengkapi pendayung 200 sampai 400 orang. Galle-galle tersebut masing-masing diberi nama secara khusus. Seperti I Galle Dondona Ralle Campaga, panjang 25 depa (kl.35 m). I Galle Inyannyik Sangguk dan I Galle Mangking Naiya, masing-masing memiliki panjang 15 depa (kl.27 m). I Galle Kalabiu, I Galle Galelangan, I Galle Barang Mamase, I Galle Siga, dan I Galle Uwanngang, masing-masing memiliki panjang 13 depa (23 m). Bet...

Mandar tak pernah menyerah pada belanda

Federasi mandar pada tahun 1906 Setelah arupalaka dan Cornelis speelman mengalahkan Gowa dan sekutunya dibenteng somba Opu tahun 1669 Arupalaka menerima ide Belanda untuk menyerang mandar tahun itu juga akan tetapi serangan pertama itu gagal total Belanda menyebut penyerangan itu kurang sukses tapi dilapangan itu gagal total kabur dari pasukan mandar Balanipa dan banggae. Arupalaka kemudian menyerang Wajo tahun berikutnya setelah sukses kali ini mereka menyerang mandar tahun 1671 saat ini arupalaka membawa pasukan makassar bersama pasukan Bugis namun tidak berhasil tapi kali ini mereka tidak kabur dalam kegagalan mereka kembali lagi tahun 1673 berbagai bangsawan Sulawesi Selatan bersumpah memerangi mandar tapi gagal.