Langsung ke konten utama

Daengta alakaya


Sumur bissua makassar

Naskah kuno mandar menunjukkan bahwa di Gowa dulu ada bissu

Menyadari penegakan hukum demikian tidak berperikemanusiaan, bermufakatlah Todilaling dengan Puang di Pojosang (dianggap salah satu intelektual dalam sejarah awal Kerajaan Balanipa) untuk mengirim duta ke Kerajaan Gowa guna meminta hukum adat yang bisa diterapkan di Kerajaan Balanipa. Duta yang ditunjuk adalah keponakan Puang di Pojosang (tak disebutkan siapa namanya di dalam lontar yang diterjemahkan). Berlayarlah dia ke Makassar untuk kemudian bertemu dengan Karaeng Gowa dan hadatnya. Permintaannya tidak langsung dipenuhi, Karang Gowa berdiskusi dulu dengan hadatnya. Hadat menyetujui, “Tidak boleh ditolak permintaannya, hanya saja Kajao perlu diminta hadir” kata Gallarang Gowa menjawab pertanyaan Karang Gowa.
Saat Kajao hadir, dia sepakat, “Tidak benar Mandar kalau kebiasaannmu demikian, kau mencelakakan dirimu. Perbuatan itu terlaknat.”

Menurut orang Bugis kajao adalah Bissu
Digowa memang dulu ada Bissu

Dari sebuah thesis
Oleh muslim agung wibawa
PERANAN KERAJAAN GOWA 
DALAM PERNIAGAAN 
ABAD XVII 
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan 
Meraih Gelar Strata Satu (S1) 
(Dosen Pembimbing: Drs. H. M. Ma’ruf Misbah, MA) 
Disusun Oleh 
Mualim Agung Wibawa
NIM : 105022000844 
JURUSAN SEJARAH DAN PERADABAN ISLAM 
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA 
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF 
HIDAYATULLAH 
JAKARTA 
2011 M/1431 H
Berikut tulisannya tentang Bissu gowa
Kedelapan, alakaya 
. Disebut juga daengta alakaya. Dia adalah seorang laki-
laki banci yang bertingkah laku dan berpakaian seperti perempuan. Lebih lazim 
dikenal dengan nama bissu. Dalam upacara majelis adat (Dewan Kerajaan) daengta 
alakaya duduk berdekatan dengan sombaya, di samping benda-benda pusaka kerajaan 
yang disebut dengan kalompoang, dialah yang memberi mantera-mantera pada 
benda-benda pusaka tersebut, sebab jika kalompoang sakti, maka diharapkan juga 
akan menambah kesaktian raja. 
Adapun daerah yang berada pada wilayah kerajaan, secara garis besar dapat 
dibagi atas: Pertama, palili ata’ rikale: daerah ini disebut pula mapatundang ata’
yaitu daerah taklukkan yang menuntut biaya dan korban yang besar ketika terjadi 
penaklukan atas daerah tersebut. Pada daerah ini ditempatkan seorang wakil dari 
pusat sedangkan penguasa daerah bersangkutan dipindah ke pusat untuk suatu jabatan 
tertentu. Pejabat perwakilan ini disebut jannang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Busur dan panah sulawesi

sebelum abad 20 busur dan panah telah dikenal di Sulawesi Dari sebuah tulisan berjudul Benteng Art Deco Peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo Disebutkan ...Masuk lebih ke dalam, pengunjung akan menjumpai bangunan-bangunan  art deco  yang kental dengan nuansa negeri kincir angin Belanda – dengan bangunan berpintu tinggi menjuntai dilengkapi banyak jendela. Bangunan-bangunan tersebut kini difungsikan sebagai museum yang menyimpan berbagai peninggalan kuno dari Sulawesi Selatan. Salah satu bangunan tersebut kini dijadikan sebagai Museum I Lagaligo.  I Lagaligo  merupakan karya sastra terpanjang yang pernah ada di dunia. Karya ini bercerita tentang seorang Dewa utusan Tuhan yang diturunkan di tengah masyarakat Sulawesi. Karena dianggap suci, naskah  I Lagaligo  dijaga dan dipelihara dengan baik di museum ini. Di bagian yang lain, terdapat museum yang menyimpan berbagai senjata tradisional yang pernah digunakan oleh berbagai kerajaan yang ada...

Armada gowa

Dikutip dari my notes Oleh mahaji noesa Menurut Prof Dr Zainal Abidin Farid, pakar budaya Sulsel, selain jenis phinisi, Kerajaan Gowa memiliki ribuan perahu jenis Galle yang mempunyai desain cantik menawan, dikagumi pelaut-pelaut Eropa. Konstruksi perahu galle bertingkat. Panjangnya ada yang mencapai 40 meter dengan lebar sampai 6 meter. Dalam Lontara Bilang Gowa- Tallo kepunyaan Andi Makkaraka Ranreng Bettempola (alm), perahu galle disebut sebagai perahu tumpangan raja dan pembesar-pembesar kerajaan. Selain memiliki tiang layar yang besar , setiap galle dilengkapi pendayung 200 sampai 400 orang. Galle-galle tersebut masing-masing diberi nama secara khusus. Seperti I Galle Dondona Ralle Campaga, panjang 25 depa (kl.35 m). I Galle Inyannyik Sangguk dan I Galle Mangking Naiya, masing-masing memiliki panjang 15 depa (kl.27 m). I Galle Kalabiu, I Galle Galelangan, I Galle Barang Mamase, I Galle Siga, dan I Galle Uwanngang, masing-masing memiliki panjang 13 depa (23 m). Bet...

Mandar tak pernah menyerah pada belanda

Federasi mandar pada tahun 1906 Setelah arupalaka dan Cornelis speelman mengalahkan Gowa dan sekutunya dibenteng somba Opu tahun 1669 Arupalaka menerima ide Belanda untuk menyerang mandar tahun itu juga akan tetapi serangan pertama itu gagal total Belanda menyebut penyerangan itu kurang sukses tapi dilapangan itu gagal total kabur dari pasukan mandar Balanipa dan banggae. Arupalaka kemudian menyerang Wajo tahun berikutnya setelah sukses kali ini mereka menyerang mandar tahun 1671 saat ini arupalaka membawa pasukan makassar bersama pasukan Bugis namun tidak berhasil tapi kali ini mereka tidak kabur dalam kegagalan mereka kembali lagi tahun 1673 berbagai bangsawan Sulawesi Selatan bersumpah memerangi mandar tapi gagal.