Langsung ke konten utama

Mandar abad 16

Diantara
poin perjanjian tammejarra
 II

museum mandar

Isi perjanjian luyo sekitar
tahun 1600

Taqlemi manurunna peneneang
(Jelaslah garis keturunan)
Upasambulo-bulo ana appona di Pitu Ulunna Salu, Pitu Babana Binanga
(Aku satukan anak cucu di Pitu Ulunna Salu, Pitu Babana Binanga)
Nasaqbi Dewata diaya, Dewata diong, Dewata di kanang, Dewata di kaeri
(Disaksikan penguasa di langit, penguasa di bumi, penguasa di utara, penguasa di selatan)
Dewata di olo, Dewata di woe, menjarimi passemandarang
(Penguasa di timur, penguasa di barat, jadilah Mandar bersatu)
Tandisapa tandiatonang, maallonang mesa
(Tak berjarak tak berbatas, sebantal bersama)
Mellate samballa, siluangang sambu-sambu, sirondong langi-langi
(Dalam selembar tikar, saling memakaikan kain, menggelar tudung bersama)
Tassipande pioqdong, tassiparundu pelango
(Bersaji nasi lunak, tanpa minuman pahit)
Tassipelei di panraq, tassipelei di apiangang
(Susah senang dipikul bersama)
Sipatuppu di ada, sipalete di rapang
(Menjunjung tinggi adat, memegang teguh petitih)
Adaq tuo di Pitu Ulunna Salu, adaq mate di muane adaqna Pitu Babana Binanga
(Prinsip hidup di Pitu Ulunna Salu, prinsip mati di Pitu Babana Binanga)
Sapu tangang di Pitu Ulunna Salu simbolong di Pitu Babana Binanga
(Pitu Ulunna Salu mengikat kepala, Pitu Babana Binanga menyanggul rambut (nya)
Pitu Ulunna Salu memmata di sawa, Pitu Baba Binanga memmata di mangiwang
(menjaga ular sawah itulah Pitu Ulunna Salu, menjaga hiu itulah pitu
Babana Binanga)
Sisaraqpai mata malotong anna mata mapute
(Bagai biji mata, hitam dan putihnya yang tak akan berpisah)
Anna sisara Pitu Ulunna Salu, Pitu Babana Binanga
(Seperti itulah Pitu Ulunna Salu, Pitu Babana Binanga)
Mua diang tomangipi mangirang, mambbattangang tomu-tommuane
(Jika seorang (perempuan) telah bermimpi mengandung bayi lelaki)
Namappasisara Pitu Ulunna Salu Pitu Babana Binanga
(Kelak akan menggoyahkan Pitu Ulunna Salu, Pitu Babana Binanga)
Sirumungngi’i anna musessei, pasungi anana
(Berkumpullah, belah perutnya, keluarkan janinnya)
Anna muanusangi sau di uwai tammembali
(Hanyutkan ke derasnya air yang tak akan kembali)


Perjanjian luyo meresmikan mandar sebagai kekuatan baru Sulawesi kira kira dipenghujung abad 16 sebelum era Islam di mandar.

Sebelum perjanjian tammejarra I , II dan perjanjian luyo mandar terdiri dari banyak negeri yang terpisah kerajaan terkuat dimasa itu adalah passokkorang yang diluluhlantakkan oleh serangan aliansi annang babana Binanga dan passokkorang sepenuhnya lenyap diabad ke 17.

Ketiga perjanjian mandar menurutku seluruhnya diabad 16 dengan alasan perjanjian luyo dilakukan sebelum era Islam di mandar.

Pada masa tumaparisiq kalona Gowa dan mandar adalah negeri yang bersahabat dengan kedudukan yang setara dan dimasa ini pula Gowa telah menjadi bandar paling ramai Sulawesi dan kuat secara militer. Perjanjian tammejarra I dimasa raja balanipa I i manyambungi bertujuan
untuk menghadapi passokkorang dan kira kira terjadi diparuh pertama abad 16 (1501-1550) sedangkan perjanjian tammejarra II disusul perjanjian luyo terjadi dimasa raja Balanipa II tomepayung kira kira diparuh kedua abad 16 (1551-1600) perjanjian tammejarra II
diakhir abad 16 meresmikan bergabungnya Binuang ke babana Binanga sedangkan perjanjian luyo sekitar tahun 1600 menyatukan Pitu ulunna salu dan Pitu babana binanga.

 Dimasa tunipalanga ulaweng ada yang menyebutkan dimasa ini Gowa memerangi mandar itu dari versi Makassar namun saya belum menemukan keterangan atau pendukung dari sumber lain yg kuat tentang ini cuma ada tulisan yang belum dikonfirmasi bahwa pernah ada semacam perjanjian antara tunipalanga ulaweng dan i manyambungi, nama kecil i manyambungi adalah Billa Billami sama dengan nama tomepayung perjanjiannya bahwa ketika ayam jantan Gowa berkokok maka sepatutnya mandar datang membantu.

andaikan itu benar semua bukti menunjukkan bahwa mandar adalah negeri berdaulat diparuh pertama abad 17(1600-1650) bahkan perjanjian tammejarra II disusul perjanjian luyo adalah tanda bahwa mandar juga berdaulat dimasa ini (akhir abad 16).

Jadi andaikan mandar ditundukkan Gowa dimasa tunipalanga ulaweng namun mandar telah merdeka atau memerdekakan diri kemungkinannya terjadi sebelum perjanjian tammejarra II diakhir abad 16 (1551-1600).

adapun sebelum perjanjian tammejarra I dimasa i manyambungi kerajaan terkuat dimandar adalah passokkorang. Dan passokkorang adalah salah satu kerajaan kuat dipantai barat Sulawesi sekitar tahun 1500 bersama Gowa, siang dan Suppa dan tidak mudah untuk menghadapi passokkorang sehingga mandar dikuasai kerajaan sulawesi diluar mandar dimasa jaya passokkorang adalah perkara yang sulit.

Adapun klaim siang menguasai mandar abad 16 adalah dugaan pelras karena saat itu siang menguasai daerah antara Toli Toli dan Kaili jadi itu bukan bukti yg kuat.

Sedangkan klaim Suppa menguasai mandar diabad 16 berdasarkan
naskah kuno Ajatappareng juga tidak membuktikan bahwa mandar dikuasai Suppa karna itu hanya menyebut pengabdian
orang mandar sebagai tukang kayu dan bukan negeri mandar dan itu juga tidak membuktikan, seperti naskah berikut
Inilah surat yang menerangkan pengabdian orang Mandar pada Ajatapparěng.  Orang Mandar tukang perahu dan tukang rumah diperintahkan. Tukang perahu dialah yang membuat  perahunya Makarai bernama Soena Gading, perahunya Arung Parěkki bernama Lapewajo, dan perahunya Paleteang  Sawitto  bernama Lapenikkěng. Demikian pula dia yang membuat Langkanae (istana) Suppaq bernama Lamalaka, dia pula yang membuat  Salassae (istana) Sawitto  bernama Lamancapai, Saworajae (istana) Alitta bernama Labeama, istana di Rappěng, dan Sawolocie (istana) Sidenreng...dan seterusnya.
Tidak ada hal lain yg mendukung klaim tersebut bahkan naskah diatas juga tidak menunjukkan mandar takluk tapi hanya menceritakan orang mandar atau tukang mandar yg mengabdi pada Ajatappareng bukan negeri mandar.
bahkan mandar dimasa passokkorang dan sesudahnya merupakan lawan yang sepadan untuk Ajatappareng.

Kalau klaim Gowa menundukkan mandar diparuh kedua abad 17 maka ada pendukungnya karena pihak Belanda menyebut bahwa 1659 dan 1660 adalah masa pemberontakan mandar dari gowa dan Ditahun 1660 juga mandar berdamai dan memberikan dukungan militer untuk Gowa pada perang tobalaq dan perang Makassar, lontar Gowa menyebutkan bahwa tahun 1659 Gowa mengirim armada berkekuatan 1183 kapal suatu jumlah yang sangat besar yang disebut karna waktu menyerang Buton sebuah sumber menyebut Gowa hanya mengirim 700 kapal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerajaan banggae

Diantara kerajaan kerajaan babana Binanga Banggae adalah yang paling kecil wilayah aslinya meliputi kecamatan Banggae dan Banggae timur saat ini yang totalnya sekitar 55 km persegi tapi meskipun demikian kerajaan Banggae sangat diperhitungkan. Nama lain Banggae adalah Majene itu sebutan orang luar untuk Banggae , kerajaan ini punya dua sisi lautan pertama dibagian selatan kedua disisi barat dan saat ini Banggae punya 3 pelabuhan, ditamo, pangaliali dan totoli. Sejumlah kesuksesan militer diperoleh mandar dengan keikut sertaan Banggae seperti perang mandar Bone jilid 1 , perluasan wilayah todiboseang, pada perang Makassar keterlibatan Banggae tidak disebutkan mungkin karna ada konflik Banggae Gowa tahun 1665 meskipun Banggae kerajaan kecil tapi tidak gentar melawan Gowa atau Bone apalagi Gowa saat itu kerajaan terkuat dinusantara timur. Jejak keberanian orang Banggae dapat dilihat pada masyarat pesisir teluk Majene termasuk pula rangas pamboborang dan sekitarnya  Saya...

Armada gowa

Dikutip dari my notes Oleh mahaji noesa Menurut Prof Dr Zainal Abidin Farid, pakar budaya Sulsel, selain jenis phinisi, Kerajaan Gowa memiliki ribuan perahu jenis Galle yang mempunyai desain cantik menawan, dikagumi pelaut-pelaut Eropa. Konstruksi perahu galle bertingkat. Panjangnya ada yang mencapai 40 meter dengan lebar sampai 6 meter. Dalam Lontara Bilang Gowa- Tallo kepunyaan Andi Makkaraka Ranreng Bettempola (alm), perahu galle disebut sebagai perahu tumpangan raja dan pembesar-pembesar kerajaan. Selain memiliki tiang layar yang besar , setiap galle dilengkapi pendayung 200 sampai 400 orang. Galle-galle tersebut masing-masing diberi nama secara khusus. Seperti I Galle Dondona Ralle Campaga, panjang 25 depa (kl.35 m). I Galle Inyannyik Sangguk dan I Galle Mangking Naiya, masing-masing memiliki panjang 15 depa (kl.27 m). I Galle Kalabiu, I Galle Galelangan, I Galle Barang Mamase, I Galle Siga, dan I Galle Uwanngang, masing-masing memiliki panjang 13 depa (23 m). Bet...

Asal nama campalagian

Dikutip dari situs nukhatulistiwa dari artikel berjudul sejarah mesjid raya Campalagian (4) . Oleh: Dr Wajidi Sayadi, M.Ag Ada yang bertanya, bagaimana sejarah adal usul penamaan Campalagian? Mengapa dinamakan Masjid Raya? Dua hal ini akan dijelaskan sebelum mengisakan rincian sejarah Masjid Raya Campalagian secara fisiknya. Nama Campalagian adalah bukti sejarah hubungan antara Campalagian atau Mandar dengan Kerajaan Bone di Sulawesi Selatan. CAMPALAGIAN berasal dari nama CEMPALAGI tempat Arung Palakka Raja Bone ke 15 (tahun 1667-1696 M) mengangkat sumpah di atas bukit CEMPALAGI akan membebaskan rakyatnya dari segala penindasan. CEMPALAGI terletak di pesisir Teluk Bone, tepatnya di Desa Mallari Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Nama CEMPALAGI berasal dari kata CEMPA dan LAGI. CEMPA artinya asam, dan LAGI artinya masih mau. Dengan demikian, CEMPALAGI artinya pohon asam dan buahnya dapat dimakan walaupun terasa kecut tetapi selalu membuat ngiler menimbu...